I. JUDUL
Praktikum Penentuan Kadar Protein
pada Kedelai
II.
Tujuan
Mahasiswa diharapkan mampu untuk
menganalisis kadar protein dalam suatu bahan dengan menggunakan N secara
gunning.
III.
Dasar Teori
Oleh adanya kedua gugus tersebut asam
amino dalam larutan dapat membentuk ion yang bermuatan positif dan juga
bermuatan protein merupakan
suatu zat makanan yang sangat penting bagi tubuh karena zat ini berfungsi
sebagai sumber energi dalam tubuh serta sebagai zat pembangun dan pengatur. Protein adalah polimer dari asam amino yang
dihubungkan dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung unsur-umsur C, H,
O, N, P, S, dan terkadang mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga
(Winarno, 1992).
Protein
merupakan suatu polipeptida dengan BM yang sangat bervariasi dari 5000 samapi
lebih dari satu juta karena molekul protein yang besar, protein sangat mudah
mengalami perubahan fisis dan aktivitas biologisnya. Banyak agensia yang
menyebabkan perubahan sifat alamiah dari protein seperti panas, asam, basa,
solven organik, garam, logam berat, radiasi sinar radioaktif (Sudarmadji,
1996).
Struktur
asam amino digambarkan sebagai berikut:
R
(Lehninger,
1995).
Apabila asam amino larut dalam air, gugus karboksilat
akan melepaskan ion H+, sedangkan gugus amina akan menerima ion H+,
seperti reaksi berikut:

negatif atau disebut juga ion amfoter (zwitterion).
Keadaan ion ini sangat tergantung pada pH larutan. Apabila asam amino dalam air
ditambah dengan basa, maka asam amino akan terdapat dalam bentuk (I) karena
konsentrasi ion OH- yang tinggi mampu mengikat ion-ion H+
pada gugus –NH3+. Sebaliknya bila ditambahkan asam ke
dalam larutan asam amino, maka konsentrasi ion H+ yang tinggi mampu
berikatan dengan ion –COO- sehingga terbentuk gugus –COOH sehingga
asam amino akan terdapat dalam bentuk (II).

Dalam suatu sistem elektroforesis yang memiliki
elektroda positif dan negatif, asam amino akan bergerak menuju elektroda yang berlawanan
dengan muatan asam amino yang terdapat dalam larutan. Apabila ion asam amino
tidak bergerak ke arah negatif maupun positif
dalam suatu sistem elektroforesis maka pH pada saat itu disebut pH
isolistrik. Pada pH tersebut terdapat keseimbangan antara bentuk-bentuk asam
amino sebagai ion amfoter, anion dan kation.
Gugus karboksil pada asam amino dapat dilepas dengan
proses dekarboksilasi dan menghasilkan suatu amina. Gugus amino pada asam amino
dapat bereaksi dengan asam nitrit dan melepaskan gas nitrogen yang dapat diukur
volumenya. Van Slyke menggunakan reaksi ini untuk menentukan gugus amino bebas
pada asam amino, peptida maupun protein.
Pada dasarnya suatu peptida adalah asil-asam amino,
karena gugus –COOH dan –NH2 membentuk ikatan peptida. Peptida
didapatkan dari hidrolisis protein yang tidak sempurna. Apabila peptida yang
dihasilkan dihidrolisis lebih lanjut akan dihasilkan asam-asam amino.

Sifat peptida ditentukan oleh gugus –COOH, –NH2
dan gugus R. Sifat asam dan basa pada peptida ditentukan oleh gugus –COOH dan
–NH2 , namun pada rantai panjang gugus –COOH dan –NH2 yang terletak diujung rantai tidak lagi
berpengaruh. Suatu peptida juga mempunyai titik isolistrik seperti pada asam
amino. Reaksi biuret merupakan reaksi warna untuk peptida dan protein.
Struktur protein dapat dibagi menjadi
empat bentuk; primer, sekunder, tersier dan kuartener. Susunan linier asam
amino dalam protein merupakan struktur primer. Susunan tersebut akan menentukan
sifat dasar protein dan bentuk struktur sekunder serta tersier. Bila protein
menandung banyak asam amino dengan gugus hidrofobik, daya kelarutannya kurang
dalam air dibandingkan dengan protein yang banyak mengandung asam amino dengan
gugus hidrofil. (Winarno, 1992).
Protein
yang terdapat dalam bahan pangan mudah mengalami perubahan-perubahan, antara
lain:
1. Dapat terdenaturasi oleh perlakuan
pemanasan.
2. Dapat terkoagulasi atau mengendap oleh
perlakuan pengasaman.
3. Dapat mengalami dekomposisi atau pemecahan
oleh enzim-enzim proteolitik.
4. Dapat bereaksi dengan gula reduksi,
sehingga menyebabkan terjadinya warna coklat.
Denaturasi
protein dapat diartikan suatu perubahan atau modifikasi terhdap struktur
sekunder, tersier dan kuartener molekul protein tanpa terjadinya pemecahan
ikatan-ikatan kovalen. Karena itu denaturasi dapat
diartikan suatu proses terpecahnya ikatan hidrogen, interaksi hidrofobik,
ikatan garam dan terbukanya lipatan atau wiru molekul protein.
Denaturasi karena Panas:
Panas dapat digunakan
untuk mengacaukan ikatan hidrogen dan interaksi hidrofobik non polar. Hal ini
terjadi karena suhu tinggi dapat meningkatkan energi kinetik dan menyebabkan
molekul penyusun protein bergerak atau bergetar sangat cepat sehingga
mengacaukan ikatan molekul tersebut. Protein telur mengalami denaturasi dan terkoagulasi
selama pemasakan.
Pemanasan akan membuat protein bahan terdenaturasi
sehingga kemampuan mengikat airnya menurun. Hal ini terjadi karena energi panas
akan mengakibatkan terputusnya interaksi non-kovalen yang ada pada struktur
alami protein tapi tidak memutuskan ikatan kovalennya yang berupa ikatan
peptida. Proses ini biasanya berlangsung pada kisaran suhu yang sempit (Ophart,
C.E., 2003).
Protein
yang mudah dicerna menunjukkan tingginya jumlah asam-asam amino yang dapat
diserap oleh tubuh dan begitu juga sebaliknya. Beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi daya cerna protein dalam tubuh adalah kondisi fisik dan kimia
bahan. Makin keras bahan, maka akan menurunkan daya cernanya dalam tubuh karena
adanya ikatan kompleks yang terdapat di dalam bahan yang sifatnya semakin kuat.
Ikatan ini dapat berupa ikatan antar molekul protein, ikatan protein- fitat,
dan sebaginya. Sedangkan kondisi kimia yaitu adanya senyawa anti gizi seperti
tripsin inhibitor dan fitat (Muchtadi, 1989).
Peneraan
jumlah protein dilakukan dengan menentukan jumlah nitrogen yang dikandung oleh
suatu bahan. N total bahan diukur dengan menggunakan metode mikro-Kjeldahl.
Prinsip dari metode ini adalah oksidasi senyawa organik oleh asam sulfat untuk
membentuk CO2 dan H2O serta pelepasan nitrogen dalam bentuk
ammonia yaitu penentuan protein berdasarkan jumlah N. Dalam penentuan protein
seharusnya hanya nitrogen yang berasal dari protein saja yang ditentukan. Akan
tetapi teknik ini sulit sekali dilakukan mengingat kandungan senyawaan N lain
selain protein dalam bahan juga terikut dalam analisis ini. Jumlah senyawaan N
ini biasanya sangat kecil yang meliputi urea, asam nukleat, ammonia, nitrat,
nitrit, asam amino, amida, purin, dan pirimidin. Oleh karena itu penentuan
jumlah N total ini tetap dilakukan untuk mewakili jumlah protein yang ada.
Kadar protein yang ditentukan dengan cara ini
biasa disebut sebagai protein kadar/crude protein (Sudarmadji, 1996).
Analisa
protein cara kjeldahl pada dasarnya dibagi menjadi tiga tahapan yaitu proses :
1. Destruksi
Dengan menambahkan asam sulfat pekat, nitrogen dilepaskan dari molekul
protein dan terkonversi menjadi garam amonium sulfat, denngan reaksi seperi
pada persamaan berikut:
2.
Distilasi
Distilasi bertujuan untuk melepaskan nitrogen dari
cairan hasil destruksi. Selama nitrogen masih terikat sebagai garam ammonium,
hanya air yang akan teruapkan selama distilasi. Untuk melepaskan nitrogen dari
cairan hasil destruksi, ion NH4+ diubah menjadi NH3.
Agar NH4+ berubah menjadi NH3, konsentrasi OH-
dalam sistem larutan teersebut harus tinggi. Hal tersebut dapat dicapai
dengan menambahkan basa kedalam sistem larutan. Selanjutnya setelah nitrogen
terikat sebagai NH3 yang terlepas ditangkap dalam larutan asam yang
telah diketahui normalitasnya.
3.
Titrasi
Amoniak (NH) yang dilepaskan selama proses distilasi akan bereaksi dengan
asam membentuk garam amonium. Dengan menggunakan metode titrasi alkalimetri,
dapat ditentukan jumlah asam yang masih tersisa dalam larutan penangkapnya.
Setelah kadar N total diketahui dari analisis gunning, maka untuk menentukan
kadar protein diperlukan faktor konversi yang menghubungkan berat protein
dengan berat N total dalam bahan seperti persamaan sebagai berikut :
(Berat protein) = (faktor konversi) x (berat N)
Kedelai dikenal dengan berbagai nama: sojaboom, soja, soja
bohne, soybean, kedele, kacang ramang, kacang bulu,
kacang gimbol, retak mejong, kaceng bulu, kacang jepun,
dekenana, demekun, dele, kadele, kadang jepun, lebui bawak, lawui,
sarupapa tiak, dole, kadule, puwe mon, kacang kuning (aceh) dan gadelei.
Berbagai nama ini menunjukkan bahwa kedelai telah lama dikenal di Indonesia.
Kedelai merupakan terna dikotil semusim dengan percabangan sedikit,
sistem perakaran akar tunggang, dan batang berkambium. Kedelai dapat berubah
penampilan menjadi tumbuhan setengah merambat dalam keadaan pencahayaan rendah.
Kedelai, khususnya kedelai putih dari daerah subtropik, juga merupakan tanaman
hari-pendek dengan waktu kritis rata-rata 13 jam. Ia akan segera
berbunga apabila pada masa siap berbunga panjang hari kurang dari 13 jam. Ini
menjelaskan rendahnya produksi di daerah tropika, karena tanaman terlalu dini
berbunga.
Di Indonesia, kedelai menjadi sumber gizi protein nabati utama, meskipun Indonesia harus
mengimpor sebagian besar kebutuhan kedelai. Ini terjadi karena kebutuhan Indonesia
yang tinggi akan kedelai putih. Kedelai putih bukan asli tanaman tropis sehingga hasilnya selalu lebih
rendah daripada di Jepang dan Cina. Pemuliaan serta domestikasi belum berhasil sepenuhnya
mengubah sifat fotosensitif
kedelai putih. Di sisi lain, kedelai hitam yang tidak fotosensitif kurang
mendapat perhatian dalam pemuliaan meskipun dari segi adaptasi lebih cocok bagi
Indonesia.
Berbicara mengenai mutu protein suatu bahan pangan, pertama-tama
yang harus dilihat adalah kadarnya, kemudian susunan asam-asam amino
esensialnya dan daya cernanya. Kedelai mengandung kadar protein yang tinggi,
yaitu sekitar 30-40%, dan dibandingkan dengan protein hewani (telur) protein
kacang kedelai kekurangan asam amino belerang. Mutu gizi suatu protein sangat
ditentukan oleh asam amino yang kurang tersebut. Karena walaupun asam amino
lainnya berlebihan, tidak dapat digunakan untuk sintesa protein tubuh tetapi
akan dibakar oleh tubuh sebagai sumber kalori. (http://web.ipb.ac.id/~tpg/de/pubde_ntrtnhlth_kdlaiprotein.php).
Kedelai merupakan tumbuhan serbaguna. Karena akarnya memiliki bintil
pengikat nitrogen bebas, kedelai merupakan tanaman
dengan kadar protein tinggi sehingga tanamannya digunakan sebagai pupuk
hijau dan pakan ternak.
Pemanfaatan utama kedelai adalah dari biji. Biji kedelai kaya
protein dan lemak serta beberapa bahan gizi penting lain, misalnya vitamin
(asam fitat) dan lesitin. Olahan biji dapat dibuat menjadi :
·
Tahu (tofu),
- Bermacam-macam saus penyedap (salah satunya kecap, yang aslinya dibuat dari kedelai hitam),
·
Tempe
·
Tepung kedelai,
·
Minyak (dari sini dapat dibuat
sabun, plastik, kosmetik, resin, tinta, krayon, pelarut, dan biodiesel.
·
Taosi
·
Tauco
IV.
Alat dan Bahan yang Digunakan dalam Praktikum
Tabel
I. Alat yang dibutuhkan untuk analisis protein
Proses
|
Jenis
Alat
|
Spesfikasi
|
Jumlah
|
Destruksi
|
Labu
kjehdahl
Kompor
listrik
Pipet
volum
Pipet
ukur
|
500
ml
25 ml
10 ml
|
1
buah
1
buah
1
buah
1
buah
|
Destilasi
|
Pemanas
mantel
Labu
kjehdahl
Bola
kaca
Pendingin
balik
Adapter
Gelas
beker
Ember
plastik
|
500
ml
200
ml
|
1
buah
1
buah
1
buah
1
buah
1
buah
1
buah
1
buah
|
Titrasi
|
Buret
Erlenmeyer
Statik
|
50 ml
250
ml
|
1
buah
1
buah
1
buah
|
Tabel II. Bahan-bahan yang dibutuhkan
dalam percobaan
Bahan
|
Jumlah
|
1. Bahan yang dianalisis
2. K2SO4
3. CuSO4
4. H2SO4 pekat
5. Akuades
6. Logam Zn
7. Indilator
8. Larutan NaOH (45 %)
9. Larutan NaOH (0,1 %)
10. Indikator metil merah
11. Larutan HCl
|
1,5 gr
10 gr
0,3 gr
35 ml
200 ml
2 butir
5 tetes
100 ml
75 ml
5 tetes
75 ml
|
V.
Prosedur Kerja
Analisis N dengan
cara Gunning dilakukan dengan prosedur ssebagai berikut:
a. Destruksi
1. Ambil kedelai, menimbang sebanyak 1,5002 masukkan kedalam botol
timbang.
2. Ambil K2SO4
ditimbang menggunakan gelas arloji sebanyak 10,0027 gr, dan CuSO4 sebanyak 0,2501 gr, masukkan kedalam labu
kjeldahl dan bersihkan.
3. Kemudian masukkan kedelai
yang telah dihaluskan kedalam labu
kjeldahl dimasukan kedalam lemari asam memasangkan pada statif.
4. Tambahkan H2SO4 dan kemudian
panaskan dengan pemanas mantel.
5. Pemanas dilakukan sampai kabut dalam labu hilang
dan cairan menjadi jernih.
6. Menghitung waktu yang dibutuhkan seberapa lama.
7. Selanjutnya labu didinginkan diudara terbuka
b. Distilasi
1. Pada labu kjeldahl hasil reaksi ditambahkan 2
butir Zn, 100 ml akuades dan indikator PP sebanyak 5 tetes.
2. Setelah itu labu dicelupkan kedalam ember berisi
air dan pecahan es sambil digoyang-goyang.
3. Selanjutnya larutan NaOH dituangkan kedalam labu
sedikit demi sedikit penambahan NaOH sampai cairan bersifat basa, hal ini
ditandai dengan berubahnya warna cairan menjadi unggu kebiru-biruan.
4. Labu segera dihubungkan dengan rangkaian alat
distilasi seperti gambar. Ujung
pendingin dihubungkan dengan adapter yang tercelup kedalam larutan penangkap
yaitu 75 ml larutan HCl 0,1 N yang berisi 4 tetes indikator metil jingga.
5. Sesudah terjadi bunyi hentakan dari dalam labu,
distilasi dihentikan.
c.Titrasi
Sesudah cairan yang menempel pada alat disemprot dengan akuades, larutan asam penangkap dititrasi
dengan larutan NaOH 0,1 N. Volum larutan NaOH yang diperlukan dicatat.
VI.
Hasil Analisis
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan,
diperoleh data yang berupa volume larutan NaOH 0,1 N yang dibutuhkan untuk
menetralkan kelebihan larutan HCl Penangkap.
Jika digunakan VA ml larutan HCl
penangkap dengan normalitas NA grek/L dan untuk titrasi digunakan
larutan NaOH NB yang mrencapai titik ekivalen pada volum VB
ml maka:
Jumlah larutan HCl
penangkap mula-mula = (VA.NA)
mgrek
Sisa larutan HCl
penangkap setelah distilasi selesai = (VB.NB) mgrek
Data yang diperoleh
dari hasil percobaan
Jenis bahan yang
didistlasi = Kedelai
Berat cuplikan
sampel = 1,5002 gr
Data titrasi
v Asam penangkap (larutan HCl)
Normalitas
(mgrek/ml) = 0,1 N
Volume = 132 ml
a. Analisis cuplikan = 57 ml
b. Anlisis blanko = 57,5 ml
v Basa penitrasi (larutan NaOH)
Normalitas (mgrek/ml) = 0,1 N
Volume = 25 ml
a. Analisis cuplikan = 9,8 ml
b. Anlisis blanko = 82,5 ml
v Kadar protein dalam bahan dihitung sebagai berikut
:
mgrek HCl = VA. NA
= 57,5 x 0,1
= 5,75 mgrek
mgrek NaOH = VB.NB
= 82,5 x 0,1
= 8,25 mgrek
mgrek NH3 = VB.NB
= 9,8 x 0,1
= 0,98 mgrek
Jumlah mgrek N
total = jumlah mgrek NH3 hasil distilasi
= (VA.NA
– VB.NB) mgrek
= ( 5,75 – 0,98 ) mgrek
= 4,77 mgrek
Berat N total dalam
bahan (mg) = (VA.NA – VB.NB) .
(Berat atom N)
= 4,77 x 14
= 66,78 mg
Gram N total
= 66,78 x 6,25
= 417,375 mg = 0,417375 gram
P =
X 100 %
=
X 100 %
= 27,82 %
Maka diperoleh berat
cuplikan yang dianalsis adalah W mg maka kadar protein dalam bahan itu (dalam %
berat) adalah 27,82%
VII. HASIL DAN PENGAMATAN
1.
Destruksi
Pada awal proses
destruksi yang dilakukkan adalah memasukkan semua bahan kedalam labu Kjehdahl
lalu dipanaskan dengan kompor listrik dalam lemari asam, pemanas dilakukan membutuhkan waktu yang cukup lama
sehingga waktu diperhitungkan selama + 04.54 menit hingga kabut dalam labu hilang menimbulkan terjadinya letupan-letupan dikarenakan
tekanan uap yang tinggi. Perubahan warna didalam larutan awalnya berawarna bening dengan menambahkan bahan-bahan
yang diuji menjadi warna kuning
bening Setelah beberapa lama cairan yang dipanaskan dengan pemanas mantel berwarna
hijau bening. Dan setelah itu proses pemanasan berlangsung sampai warna menjadi jernih dan dinginkan.
2.
Destilasi
Dari hasil percobaan yang dilakukan
diperoleh hasil pengamatan yaitu setelah penambahan 2 butir Zn, 100 ml aquades serta
indikator PP 5 tetes pada labu Kjehdahl hasil
destruksi serta NaOH 40 % akan diperoleh warna menjadi ungu kebiru-biruan yang mengendap dibawah. Setelah itu di destilasi,
hingga diperoleh warna akhir destilasi yaitu warna coklat. Tanda akhir jika
destilasi dianggap selesai adalah adanya hentakan dalam labu.
3.
Titrasi
Hasil distilasi dipipet sebanyak 75 ml larutan HCl
ditambahkan indikator MO sebanyak 4-5 tetes dan dititrasi dengan larutan NaOH
sehingga perubahan warna yang terjadi adalah orange. Titrasi
berakhir ditandai dengan warna larutan menjadi bening.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar