I.
JUDUL
Analisis Minyak Nabati ( Minyak Kulit Ari beras )
II.
TUJUAN
1.
Praktikan mahasiswa mampu untuk
mempelajari cara analisis sifat-sifat kimia dari minyak nabati.
2.
Mampu menetukan ekivalen asam lemak
minyak nabati bebas dan ekivalen
asam
lemak total dari
sampel minyak kulit ari beras.
III.
DASAR
TEORI
Lemak dan minyak adalah trigleserida
yang berati merupakan triester dari gliserol. Perbedaan
yang langsung bisa diamati dari lemak dan minyak nabati adalah pada suhu kamar
lemak berujud padat, sedangkan
minyak berujud cair. Kebanyakan
gliserid dalam hewan adalah lemak sedangkan dalam tumbuhan berupa minyak, sehingga sering dijumpai istilah minyak hewani dan minyak
nabati (Seno Wulung,2010).
Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada
golongan lipid, yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut
dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar, misalnya
dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform (CHCl3),
benzena dan hidrokarbon lainnya, lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut
yang disebutkan di atas karena lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama
dengan pelarut tersebut. Bahan-bahan dan senyawa kimia akan mudah larut dalam
pelarut yang sama polaritasnya dengan zat terlarut. Tetapi polaritas bahan
dapat berubah karena adanya proses kimiawi. Misalnya asam lemak dalam larutan
KOH berada dalam keadaan terionisasi dan menjadi lebih polar dari aslinya
sehingga mudah larut serta dapat diekstraksi dengan air. Ekstraksi asam lemak
yang terionisasi ini dapat dinetralkan kembali dengan menambahkan asam sulfat
encer (10 N) sehingga kembali menjadi tidak terionisasi dan kembali mudah
diekstraksi dengan pelarut non-polar.
Hasil hidrolisis lemak dan minyak adalah
asam karboksilat dan gliserol. Asam
karboksilat ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang
panjang dan tidak bercabang.
Gliserida
adalah sejenis senyawa ester dan merupakan hasil reaksi antara gliserol
(glycerols) dengan asam lemak (fatty acids). Reaksi tersebut dikenal dengan
nama reaksi esterifikasi, karena menghasilkan senyawa ester. Produk akhir
reaksi tersebut adalah berupa monogliserida (monoacylglycerols), digliserida
(diacylglycerols) dan trigliserida (tryacylglyecrols). Monogliserida merupakan
gliserol yang bereaksi dengan satu buah asam lemak, dan dinamakan digliserida
karena mengandung dua buah asam lemak. Sedangkan gliserol yang bereaksi dengan
tiga buah asam lemak disebut
trigliserida. Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida dari gliserol . Dalam
pembentukannya, trigliserida merupakan hasil proses kondensasi satu molekul
gliserol dan tiga molekul asam lemak (umumnya ketiga asam lemak tersebut
berbeda –beda), yang membentuk satu molekul trigliserida dan satu molekul air.
Asam lemak adalah asam
karboksilat yang mempunyai atom karbon lebih dari 6, contohnya adalah asam
palmitat, asam stearate dan asam linoleat. Ada dua jenis asam lemak, yaitu asam
lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh.
Berdasarkan
kegunaannya, minyak nabati terbagi menjadi dua golongan. Pertama, minyak nabati
yang dapat digunakan dalam industri makanan (edible oils) dan dikenal dengan
nama minyak goreng meliputi minyak kelapa, minyak kulit ari beras, minyak
kelapa sawit, minyak zaitun, minyak kedelai, minyak kanola dan sebagainya.
Kedua, minyak yang digunakan dalam indutri non makanan (non edible oils)
misalnya minyak kayu putih, minyak jarak, dan minyak intaran.
Minyak kulit
ari beras atau Rice Bran oil merek ” Oryza grace ” adalah ekstrak dari serbuk
halus yang melapisi bulir beras dala biji padi, yang dimurnikan lewat
penyaringan menggunakan proses ” extra cold ”. Hasilnya adalah minyak lembut
penuh cita rasa, memiliki titik asap pada temperatur sangat tinggi ( 254ºC ),
aman untuk memasak, menggoreng, salad dressing maupun berbagai penyajian lainnya
( label kemasan Oryza grace
).
Nutrition Information
Serving per package :
67
Serving :
15 ml ( 1 tbsp )
|
|
Per Serving
|
Per 100 ml
|
|
Energy
|
120 kcal
|
802 kcal
|
|
Protein
|
0
|
0
|
|
Karbohidrat
|
0
|
0
|
|
Total fat
|
13,4 gr
|
89,2 gr
|
|
2,9 gr
|
19,4 gr
|
|
0
|
0
|
|
5,6 gr
|
37,2 gr
|
|
4,7 gr
|
31,4 gr
|
|
-
Omega 3 Fatly Acids
|
0,2 gr
|
1,2 gr
|
|
-
Omega 6 Fatly Acids
|
4,2 gr
|
30,0 gr
|
|
Cholesterol
|
0
|
0
|
|
Diatary Fibre
|
0
|
0
|
|
Sodium
|
0
|
0
|
|
Gamma oryzanol
|
34,4 mg
|
229 mg
|
|
Vitamin E
|
1 mg
|
7,2 mg
|
( label kemasan Oryza grace )
Sifat-sifat kimia yang dimiliki asam lemak adalah sebagai
berikut:
a.
Mudah
dihidrolisis
b.
Mudah
membentuk sabun
c.
Rasa
tengik yang disebabkan adanya ikatan rangkap yang terputus
d.
Minyak
yang mengandung asam lemak sangat tidak jenuh mudah dioksidasi spontan oleh
oksigen pada temperatur biasa rantainya yang tak jenuh membentuk zat yang keras
dan tahan air dan mudah dihidrogenasi oleh hidrogen menjadi jenuh.
Lemak dan minyak merupakan senyawaan
trigliserida dari gliserol.
Dalam pembentukannya, trigliserida merupakan hasil proses
kondensasi satu molekul gliserol dan tiga molekul asam lemak (umumnya ketiga
asam lemak tersebut berbeda –beda), yang membentuk satu molekul trigliserida
dan satu molekul air .

Bila R1=R2=R3, maka
trigliserida yang terbentuk disebut trigliserida sederhana (simple
triglyceride), sedangkan bila R1, R2, R3 berbeda, maka disebut trigliserida campuran (mixed triglyceride).
a.
Sifat kimia lemak dan minyak
1. Proses Esterifikasi
Proses
esterifikasi bertujuan untuk asam-asam lemak bebas dari trigliserida,menjadi
bentuk ester. Reaksi esterifikasi dapat dilakukan melalui reaksi kimia yang disebut interifikasi atau
penukaran ester yang didasarkan pada prinsip transesterifikasi Fiedel-Craft.

2.
Hidrolisa
Dalam reaksi hidrolisis,
lemak dan minyak akan diubah menjadi asam-asam lemak bebas dan gliserol. Reaksi
hidrolisi mengakibatkan kerusakan lemak dan minyak. Ini terjadi karena terdapat
terdapat sejumlah air dalam lemak dan minyak tersebut.

3. Penyabunan
Reaksi ini dilakukan dengan
penambahan sejumlah larutan basa pada trigliserida. Bila penyabunan telah
lengkap, lapisan air
yang mengandung gliserol dipisahkan dan gliserol dipulihkan dengan penyulingan.

4. Proses hidrogenasi.
Proses hidrogenasi bertujuan untuk
menjernihkan ikatan dari rantai karbon asam lemak pada lemak atau minyak .
setelah proses hidrogenasi selesai , minyak didinginkan dan katalisator dipisahkan
dengan disaring . Hasilnya adalah minyak yang bersifat plastis atau keras ,
tergantung pada derajat kejenuhan.
5. Pembentukan keton
Keton dihasilkan melalui
penguraian dengan cara hidrolisa ester.

6. Oksidasi
Oksidasi dapat berlangsung
bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan lemak atau minyak .
terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau tengik pada lemak atau
minyak.
Lemak dan minyak merupakan senyawa
organik alami yang tidak larut dalam air dan dapat larut dalam pelarut
organik,seperti alkohol, eter, hidrokarbon. Rumus bangun minyak atau lemak
adalah ditunjukkan pada gambar I.I :

Gambar I.I Rumus Bangun Lemak atau
Minyak
Dengan
R1, R2, R3 adalah asam-asam karboksilat
atau asam lemak yang bisa sama atau berbeda.
Apabila
ketiga asam lemak itu sama maka lemaknya disebut lemak sederhana, sedangkan bila berbeda disebut
lemak campuran.
Asam lemak umumnya mempunyai rantai
hidrokarbon panjang dan tidak bercabang. Pemberian
nama asam lemak atau minyak seringkali menggunakan derivat asam-asam lemak, misalnya gliseril tristearat diberi
nama tristearin, dan
gliseril tripalmitat disebut tripalmitin.
Pada umumnya asam lemak penyususn trigliserid
mempunyai ataom C lebih dari 16 atom.
Minyak
yang dihasilkan dari tumbuhan (minyak nabati) mempunyai kandungan asam lemak
yang berbeda-beda, seperti
pada tabel I2.I :
|
Minyak
|
Asam Oleat
|
Asam Linoleat
|
Asam Sterarat
|
Asam Miristat
|
Asam Palmitat
|
Asam arasidat
|
|
Kelapa
|
5,0
|
1,0
|
3,0
|
18,5
|
7,5
|
|
|
Kacang
|
42-47
|
13-28
|
2-4
|
|
6-12
|
5-7
|
|
Biji kapuk
|
46,1-56,6
|
27,7-34,6
|
4,9-8,6
|
|
10,5-10,8
|
1
|
|
Jagung
|
43,4
|
39,1
|
3,3
|
|
7,3
|
0,4
|
|
Sawit
|
38,4
|
10,7
|
4,2
|
1,1
|
41,1
|
|
Lemak
dan minyak mempunyai sifat-sifat diantaranya :
a.
SIFAT
FISIK
Sifat fisik yang dimiliki oleh minyak
atau lemak yang cukup baik untuk konsumsi adalah tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, berat jenis yang lebih kecil dari air, kadar air cukup kecil, dan tidak larut dalam pelarut
organik non polar.
b.
SIFAT
KIMIA
Sifat-sifat kimia yang dimiliki oleh
minyak atau lemak adalah mudah dihidrolisis,
mudah
membentuk sabun, rasa
tengik yang disebabkan adanya ikatan rangkap asam lemak yang putus, minyak yang mengandung asam lemak
sangat tidak jenuh mudah dioksidasi spontan oleh oksigen pada temperatut biasa
rantainya yang tidak jenuh membentuk zat yang keras dan tahan air dan mudah
dihidrogenasi oleh hidrogen menjadi jenuh.
Beberapa
cara analisis untuk mengenal sifat lemak dan minyak antara lain :
Ø Ekivalen
asam lemak bebas yaitu kadar asam lemak yang tidak terikat atau tereter dengan
gliserol yang dinyatakan dalam miligram ekivalen asam lemak/gram minyak. Jika nilai ini dikalikan dengan 56
(Berat molekul KOH)diperoleh bilangan asam.
Ø Ekivalen
asam lemak total yaitu
kadar asam lemak total (asam lemak bebas dan asam lemak yang terikat gliserol)
yang dinyatakan dalam miligram ekivalen asam lemak/gram minyak. Bilangan sabun diperoleh dengan
mengalikan nilai ini dengan berat molekul basa KOH(56).
(Seno
Wulung,2009)
IV.
PROSEDUR KERJA
4.1.
ALAT DAN BAHAN
Ø Alat – alat yang digunakan adalah :
1.
Erlenmeyer
250 ml
2.
Pendingin balik
3.
Buret,
statif dan klem
4.
Gelas
beker 100 ml
5.
Corong
gelas
6.
Gelas
arloji
7.
Botol
timbang
8.
Kompor
listrik
9.
Pipet
tetes
10.
Pipet
volume 25 ml
11.
Propipet
12.
Neraca
analitik
13.
Labu
ukur 500 ml
14.
labu
takar 100 ml
15.
Pengaduk
Ø Bahan – bahan yang digunakan adalah :
1.
Akuades
2.
Sampel minyak
kulit ari beras ( Rice Bran Oil )
3.
Boraks
4.
HCl 0,5 N
5.
NaOH 0,1 N
6.
Indicator PP
7.
Indicator MO
8.
Alkohol netral
yang telah mengandung indikator PP
9.
Larutan KOH 0,5
N dalam Alkohol.
4.2. Skema
Langkah Kerja
4.2.1.
Standarisasi
larutan H2SO4 0,5 N
1.
Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan
dalam praktikum, mencuci
alat tersebut sampai bersih dan keringkan.
2.
Siapkan bahan-bahan yang akan diuji coba pada praktikum.
3.
Memasang
buret
pada statif dan klem.
4.
Menimbang boraks sebanyak
2,0294
gram menggunakan
gelas arloji dengan neraca analitik, pindahkan ke dalam gelas beker lalu gelas arloji
dibilas dengan aquades
sampai bersih, kemudian masukkan kedalam erlenmeyer 250 ml, menambahkan aquades sampai garis batas 100 ml.
5.
Menambahkan
3 tetes indicator PP kedalam larutan boraks.
6.
Menitrasi
dengan larutan HCl 0,5 N sampai terjadi perubahan warna dari merah muda menjadi
putih jernih.
7.
Mencatat
volume HCl yang digunakan dalam titrasi larutan boraks.
8.
Mengulangi
langkah kerja yang sama sebanyak 1 kali.
4.2.2. Standarisasi larutan NaOH 0,1 N
1.
Mempipet
50 ml larutan HCl 0,5 N dengan pipet volum kemudian masukkan ke dalam
Erlenmeyer 250 ml.
2.
Menambahkan
3 tetes indicator MO kedalam larutan HCl.
3.
Menitrasi
dengan larutan NaOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna dari merah muda tua
menjadi merah muda jernih.
4.
Mencatat
volume NaOH yang digunakan dalam titrasi larutan boraks.
5.
Mengulangi
langkah kerja yang sama sebanyak 1 kali.
4.2.3. Penentuan
Asam Lemak Bebas (ALB)
1. Menimbang
5,0108
gram minyak sampel dengan
naraca analitik dengan menggunakan botol timbang, kemudian masukkan kedalam erlenmeyer 250 ml kemudian tambahkan 50 ml alkohol netral
yang telah mengandung indikator PP
dengan menggunakan pipet volum.
2. Campuran
dipanaskan selama
1 jam sambil digoyang-goyang untuk melarutkan minyak dan asam lemak bebasnya.
3.
Setelah 1 jam, larutan didinginkan kemudian
dititrasi dengan NaOH 0,1 N sampai terbentuk warna merah muda yang tidak hilang
selama 30 detik.
4.
Mencatat
volume NaOH yang digunakan dalam titrasi.
4.2.4. Penentuan Asam Lemak Total (ALT)
1.
Menimbang
5,0220 gram sampel minyak dengan neraca analitik menggunakan botol timbang,
kemudian masukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml, kemudian tambahkan 50 ml larutan
KOH 0,5 N dalam alcohol dengan menggunakan pipet volum.
2.
Campuran
dipanaskan selama 1,5 jam.
3.
Setelah
1,5 jam, larutan didinginkan kemudian ditambahkan 3 tetes indicator PP,
kemudian dititrasi dengan HCl 0,5 N sampai terjadi perubahan warna dari ungu
menjadi putih bening.
4.
Mencatat
volume HCl yang digunakan dalam titrasi.
5.
Pada
saat waktu yang bersamaan lakukan hal yang sama terhadap larutan blanko KOH
yang ditambahkan 3 tetes indicator PP,
kemudian dititrasi dengan larutan HCl 0,5 N sampai terjadi perubahan
warna dari ungu menjadi putih jernih.
6.
Mencatat
volume HCl yang digunakan dala titrasi.
V.
Hasil
Analisis dan Perhitungan
5.1.Standarisasi
larutan HCl
0,5 N
Berat
boraks yang ditimbamg : 1. 2,0294
gram
2. 2,0287 gram
Berat boraks rata – rata : 2,02905 gram
Volume Aquades :
100 ml
|
No.
|
Volume
larutan boraks (ml)
|
Volume
larutan HCl
untuk titrasi (ml)
|
Perubahan
selama titrasi
|
|
1.
|
100
|
32,4
|
Kuning
menjadi orange
|
|
2
|
100
|
29,8
|
Kuning
menjadi orange
|
|
Rata-rata
|
100
|
31,1
|
Kuning
menjadi orange
|
= 2 x
x 
= 0,1 N
N
HCl = 
= 
=
0,32 N
5.2.Standarisasi larutan NaOH 0,1 N
|
No.
|
Volume
larutan HCl (ml)
|
Volume
larutan NaOH
(ml)
|
Perubahan
selama titrasi
|
|
1.
|
50
|
72,5
|
Bening
menjadi ungu muda
|
|
2
|
50
|
74,4
|
Bening
menjadi ungu muda
|
|
Rata-rata
|
50
|
73,45
|
Bening
menjadi ungu muda
|
N
NaOH = 
= 
= 0,2 N
6.
Penentuan
Asam Lemak Bebas
Lama
pemanasan :
60 menit
Berat
contoh minyak : 5,0108 gram
Volume
NaOH :
3,5 ml
Normalitas
Larutan NaOH : 0,2 mgrek/ml
Ekivalen
Asam Lemak Bebas = 
= 
= 0,14
mgrek/gram
Jadi hasil perolehan minyak asam
lemak bebas
sebesar 0,14 mgrek/gram.
7.
Penentuan
Asam Lemak Total
Lama
pemanasan :
90 menit
Berat
contoh minyak :
5,0220
gram
Volume
HCl untuk
titrasi blangko : 111,95 ml
Volume
HCl
untuk titrasi sampel : 36,1 ml
Berat
KOH dalam alkohol : 50 ml
Ekivalen Asam Lemak Total 

= 4,83
mgrek/gram
jadi
hasil perolehan asam minyak total sebesar
4,83
mgrek/gram
Tidak ada komentar:
Posting Komentar